Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh dengan kemuliaan yang memiliki banyak keutamaan. Pada bulan istimewa inilah, seluruh umat Islam diwajibkan untuk melakukan puasa, menahan diri dari segala macam hal yang semulanya boleh untuk tidak dilakukan demi menaati Rabb semesta alam. Bulan suci Ramadhan merupakan bulan yang tidak hanya dikenal sebagai bulan ibadah, tetapi bulan ini juga merupakan bulan yang sangat bersejarah bagi seluruh umat Muslim di dunia.
Pada bulan suci Ramadhan ini, banyak sekali peristiwa-peristiwa yang sangat luar biasa hebat dalam sejarah Islam. Pasti Anda penasaran kan apa saja peristwa luar biasa dalam sejarah Islam yang terjadi pada bulan Ramadhan. Yuk simak kisahnya di bawah ini.
Perang Badar
Kalau kita mengumpulkan semua peristiwa-peristiwa bersejarah tentang Islam yang pernah terjadi di bulan Ramadhan, sudah pasti kisah Perang Badar merupakan salah satu peristiwa yang paling dikenal dan sangat banyak terdapat hikmat dan pelajarannya yang bisa kita petik.
Perang ini merupakan perang besar pertama yang terjadi antara orang-orang beriman dengan orang-orang kafir, yang telah ingkar kepada Allah SWT. Tidak ada satupun dari orang munafik tersebut yang turut serta dalam perang tersebut. Sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjamin kepada setiap sahabatnya yang wafat di Perang Badar adalah syuhada dan akan dijaminkan surga.
Pada mulanya, Rasulullah dan para sahabat tidak mengira akan terjadi perang besar tersebut, beliau bersama dengan para sahabat hanya ingin mencegat kafila dagang Quraisy yang dipimpin langsung oleh Abu Sufyan dengan harta 1000 ekor unta yang disesaki dengan harta seniali 50.000 dinar emas. Alasan utama Rasulullah dan para sahabat mencegatnya adalah orang-orang Quraisy adalah orang kafir yang mengumandangkan perang terhadap umat Islam (kafir harbi), merampas harta mereka ketika berada di Mekah, dan mengusir mereka dari wilayah tersebut. Tidak disangka-sangka ternyata berita pencegatan tersebut sampai ketelinga pembesar-pembesar Quraisy di Mekah. Mereka langsung keluar dengan kekuatan yang sangat besar hanya untuk mengadapi pasukan muslim.
Bertemulah dua pasukan yang sangat tidak imbang mengenai jumlahnya. Pasukan Islam hanya terdiri dari 314 orang dan pasukan Mekah sebanyak 1300 orang. Rasulullah pun sempat merasa khawatir dengan hal tersebut, beliau yang masih belum menyaksikan loyalitas dari penduduk (pasukan) Madinah di tengah masa-masa sulit. Adapun pasukan dari Mekah beliau tahu karena telah bersama-sama mengalami masa-masa sulit, sehingga ketika itu Umar dan juga Abu Bakar yang meyakinkan kepada Rasulullah, Rasulullah pun belum merasa bisa merasakan kepuasan, Rasulullah hanya menunggu reaksi apa yang akan ditimbulkan dari pasukan Madinah tersebut.
Pada Akhirnya berbicaralah salah satu Anshar, al-Miqdad bin ‘Amr seraya berkata, “Wahai Rasulullah, majulah terus sesuai apa yang diperintahkan Allah kepada anda. Kami akan bersama Anda. Demi Allah, kami tidak akan mengatakan sebagaimana perkataan Bani Israil kepada Musa: ‘Pergi saja kamu, wahai Musa bersama Rab-mu (Allah) berperanglah kalian berdua, biar kami duduk menanti di sini saja.” Kemudian al-Miqdad menambahkan,“Tetapi pegilah Anda bersama Rab Anda (Allah), lalu berperanglah kalian berdua, dan kami akan ikut berperang bersama kalian berdua. Demi Dzat Yang mengutusmu dengan kebenaran, andai Anda pergi membawa kami ke dasar sumur yang gelap, kami pun siap bertempur bersama Anda hingga Anda bisa mencapai tempat itu.”
Pada malam 17 Ramadhan 2H, Rasulullah menyibukkan dirinya dengan berdoa untuk pertempuran besar tesebut. Keesokan harinya, Rasulullah mendoakan dan menyebut satu per satu nama-nama tokoh dari Quraisy, Abu Jahl dll agar dibinasakan dari pertempuran keesokan harinya. Benar saja, tidak ada satupun dari nama yang beliau sebutkan melainkan tewas di Badr.
Keesokan harinya, berkecamuklah peperangan besar antara dua gelombang manusia, lemparan tombak dan gemertak pedang yang saling beradu memenuhi medan Badar. Dengan jumlah yang sangat jauh minimnya, pasukan Islam sempat mengalami keadaan terdesak dan hampir mengalami kekalahan. Akhirnya, Allah SWT menurunkan sebuah bala bantuan dngan diturunkannya pasukan langit yaitu para malaikat. Tidak tanggung-tanggung, pemimpin para malaikut pun ikut membantu peperangan tersebut, yakni Malaikat Jibril. Rasulullah bersabda,“Bergembiralah wahai Abu Bakar, pertolongan Allah sudah datang. Ini Jibril sedang memegang tengkuk kuda guna memacunya, yang pada gigi serinya terdapat debu.”
Allah pun memenangkan pembela-pembela agama-Nya dan menghinakan pasukan iblis tersebut. Tewaslah semua pembesar-pembesar dari Quraisy yang turut dalam peperangan sehingga meninggalkan duka yang sangat mendalam dan mental yang jatuh di kalangan orang-orang Mekah.
Penaklukkan Kota Mekah
Peristiwa luar biasa lain di bulan Ramadhan yang menorehkan sejarah besar dalam perjalanan umat Islam adalah peristiwa penaklukkan kota Mekah. Peristiwa besar ini terjadi karena adanya penghianatan yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy dalam perjanjian Hudaibiyah. Salah satu poin perjanjian adalah “Barang siapa yang ingin masuk ke kelompok Rasulullah, maka dipersilahkan bergabung dan yang ingin bergabung dengan orang-orang Mekah juga dipersilahkan bergabung. Kabilah manapun yang bergabung dengan salah satu kelompok ini, maka ia adalah sekutu dari kelompok tersebut. Dan permusuhan yang ditujukan kepada kabilah-kabilah tersebut, dianggap permusuhan terhadap kelompok tersebut.” Sesuai dengan perjanjian, Bani Khuza’ah masuk ke kelompok Rasulullah dan Bani Bakr bergabung dengan orang-orang Quraisy lainnya.
Ternyata Bani Bakr memanfaatkan kondisi damai dan tentram tersebut untuk melancarkan serangan kepada Bani Khuza’ah, agar mereka dapat membunuh orang-orang Khuza’ah tanpa mereka bersiap mengadakan perlawanan. Di suatu malam Bani Bakr mulai keluar dan menuju ke tempat Bani Khuza’ah. Mereka memburu Bani Khuza’ah sampai orang-orang Khuza’ah berlari ke tanah haram agar aman dari pembunuhan. Salah seorang dari Bani Bakr menyeru pemimpinnya yang bernama Naufal, “Wahai Naufal, sesungguhnya kita memasuki tanah haram. Ingatlah Tuhanmu, Tuhanmu.” Naufal malah menjawab, “Wahai Bani Bakr, tidak ada Tuhan pada hari ini!! Balaskan dendam kalian!! Aku bersumpah, kalau perlu kalian boleh mencuri di tanah haram. Tunggu apa lagi, balaskan dendam kalian di dalam tanah haram!!” Dan terjadilah pembantaian kejam dan bengis di tanah haram. Peristiwa ini merupakan pelanggaran terhadap perjanjian damai yang telah disepakati, perjanjian damai Hudaibiyah telah dirobek-robek oleh orang-orang Quraisy karena membiarkan sekutu mereka membantai sekutu Nabi Muhammad SAW.
Sampailah kabar yang tidak menyenangkan tersebut ke telinga Rasulullah, beliau pun memenuhi janjinya terhadap sekutunya, Bani Khuza’ah. Abu Sufyan (yang saat itu masih kafir) datang langsung menemui Rasulullah di Madinah, melobi beliau agar mau memaafkan penghianatan tersebut. Setelah ditolak mentah-mentah oleh Rasulullah, Abu Sufyan datang menemui istri Rasulullah yang merupakan anak kandungnya, Ummu Habibah binti Abu Sufyan, agar anaknya mau melobi Rasulullah. Ternyata Ummu Habibah pun tegas menolak keinginan sang ayah, bahkan ia tidak sudi tikar yang biasa dipakai Rasulullah duduk di rumahnya diduduki sang ayah yang kala itu adalah musuh Allah dan Rasul-Nya.
Abu Sufyan terus berjuang untuk melobi ke orang-orang dekat dengan Rasulullah sampai Abu Bakar, Umar, dan Ali bin Abi Thalib, agar melobi Rasulullah untuk mengurungkan niat menyerang Mekah. Mereka semua tidak bisa memberikan solusi bagi Abu Sufyan. Ia pun pulang ke Mekah dan membawa kabar genting bahwa Muhammad akan menyerang Mekah.
Setelah sepuluh hari lebih bulan Ramadhan tahun 8 H, Rasulullah mulai berangkat ke Mekah bersama 10.000 orang sahabat. Tidak ada satu pun dari orang Quraisy yang mengetahui keberangkatan beliau dan pasukannya yang menuju Mekah. Seluruh pasukan Islam memasuki Mekah melalui jalur-jalur yang telah direncanakan sebelumnya, penduduk Mekah pun sangat terkejut dengan kedatangan kaum muslimin. Mereka yang sudah takut sebelumnya, semakin Allah tambahkan rasa takut di dalam hati mereka. Akhirnya Mekah pun ditaklukkan, Rasulullah dan para sahabat Muhajirin memasuki kampung halaman mereka yang telah lama mereka tinggalkan.
Inilah langkah besar pasukan Islam untuk menyerukan Islam di wilayah-wilayah Arab lainnya, karena Mekah menjadi panutan bagi bangsa-bangsa Arab sekitarnya.